Langsung ke konten utama

Mesir dan mitos kejatuhan Presiden RI




Mesir dan mitos kejatuhan Presiden RI
 
  Hubungan antara Indonesia dengan Mesir ibarat pepatah 'jauh di mata dekat di hati'. Meskipun dipisahkan jarak yang sangat jauh, hubungan harmonis keduanya tetap terjalin sejak Indonesia merdeka hingga kini.

Hubungan baik Indonesia dengan Mesir terjalin lantaran negara piramida itu adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Republik Indonesia pada tahun 1945. Tak heran seluruh Presiden RI sejak Soekarno hingga SBY pernah berkunjung ke Mesir.

Hari ini pun Presiden SBY bertolak dari Madinah menuju Kairo, Mesir. SBY akan menghadiri KTT OKI di negara yang terkenal dengan patung spink itu.

Namun di antara para Presiden RI yang pernah berkunjung, Soekarno lah yang paling sering dan paling populer di kalangan rakyat Mesir. Namun kunjungan Presiden RI ke Mesir juga dibayang-bayangi mitos lengser keprabon. Benarkah?

Presiden Soekarno tercatat presiden paling sering bertandang ke Mesir. Menurut buku 'Potret Hubungan Indonesia-Mesir' (2009), Bung Karno melawat ke Mesir sebanyak enam kali, yaitu tahun 1955, 1958, 1960, 1961, 1964, dan 1965. Tak lama setelah pulang dari Mesir, Soekarno pun turun takhta.

Presiden kedua, Soeharto juga berusaha tetap melanggengkan hubungan harmonis Indonesia-Mesir. Setidaknya dua kali Pak Harto melawat ke Mesir.

Lawatan pertama dilakukan Soeharto pada tahun 1977. Setelah itu, Soeharto cukup lama tak menginjakkan kaki di negeri sungai Nil itu.

Baru pada tahun 1998, Soeharto kembali berkunjung ke Mesir. Tak lama usai melawat ke Mesir, Soeharto pun dilengserkan dalam tragedi 1998.

Lalu bagaimana dengan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibi? BJ Habibie satu-satunya Presiden RI yang tidak sempat berkunjung ke Mesir, tapi setahun menjelang dilantik jadi presiden, pakar aeronautika itu melakukan lawatan dalam kapasitas sebagai menteri riset dan teknologi pada 1997, menyusul lawatannya serupa pada 1995, tetapi bukan dalam kapasitas sebagai presiden.

Lalu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah dua kali ke Mesir pada 2000 dan 2001. Bahkan menjelang keberangkatannya ke Mesir untuk yang kedua kalinya, Gus Dur pernah diingatkan oleh para kiai. Para kiai mendasarkan presiden sebelumnya lengser setelah berkunjung ke Mesir.

Namun hal itu tidak membuat cucu pendiri NU ini bergeming. Gus Dur tetap melakukan perjalanan ke Mesir dengan alasan agenda tersebut sudah dijadwalkan cukup lama. Dan lagi-lagi, tak berapa lama usai dari Mesir, Gus Dur lengser.

Benarkah mitos ada kunjungan ke Mesir akan membawa pada kelengseran para Pemimpin RI. Mungkin saja hal itu hanya kebetulan belaka.

Namun bagaimana dengan Habibie dan Megawati yang tidak terkena 'kutukan' itu? Beberapa kalangan menyebut karena Habibie dan Megawati bukan presiden utama, alias presiden antar waktu. Habibie diketahui menjadi presiden lantaran Soeharto lengser di tengah jalan, begitu juga dengan Megawati yang menjadi pengganti Gus Dur, sehingga mereka tidak terkena mitos ini.

Lalu bagaimana dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono? Tentu mitos itu masih jauh panggang dari api. Di sini, tidak ada gejolak politik yang berarti.

SBY sendiri pada 2004 silam pernah berkunjung ke Mesir. Saat itu SBY menghadiri upacara penghormatan terakhir terhadap mendiang Presiden Palestina Yasser Arafat yang jenazahnya disemayamkan di Mesir sebelum dimakamkan di tanah kelahirannya, Palestina.

Dan pada Selasa (5/2) sekitar pukul 20.40 waktu setempat, atau Rabu (6/2) pada pukul 01.40 WIB SBY dan rombongan mendarat di Bandar Udara Internasional Kairo. Presiden akan menghadiri serangkaian acara Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (KTT OKI) pada siang hari.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Hotel Fairmont Towers dimulai dengan acara pembukaan KTT OKI dan dilanjutkan sidang kerja dan sesi khusus untuk membahas penyelesaian sengketa di wilayah Palestina.

http://www.merdeka.com/politik/mesir-dan-mitos-kejatuhan-presiden-ri.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARIM TIRO, SOSOK YANG MISTERIUS

Bagi masyarakat Aceh, sosok Karim Michel Tiro (selanjutnya disebut Karim saja) kalah populer dibanding ayahnya, Teungku Hasan Muhammad di Tiro (selanjutnya disebut Tiro). Selama puluhan tahun, namanya hanya disebutkan secara terbatas, itu pun hanya di kalangan GAM saja. Pun begitu, Tiro, ayahnya, sering menyebut namanya, baik dalam pidato maupun dalam tulisan. Dalam The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro , nama anak semata wayangnya disebut berkali-kali, bahkan dengan bangga. Iya, kini sepeninggalan Tiro, nama Karim mencuat ke permukaan: Setidaknya, ada dua sebab: karena orang-orang pada penasaran; juga karena mereka kecewa. Penasaran karena, selama puluhan tahun masyarakat tak pernah melihat sosoknya secara langsung dan nyata. Foto dirinya juga terbatas, termasuk arsip di internet. Kisah tentangnya begitu tertutup dan misterius, kecuali beberapa dokumen dari Universitas tempatnya mengabdikan diri sebagai asisten profesor ilmu sejarah ...

Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali (1)

Malik Khaidir Mahmud.  Demikianlah nama asli beliau. Seorang tokoh elit eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dikenal dekat dengan Wali Nanggroe, Hasan Tiro. Tokoh yang satu ini memang sungguh unik, tertutup dan sangat berhati-hati dalam berbagai isu yang menyangkut akan latar belakang dan riwayat hidupnya. Sehingga tidak diperoleh catatan yang jelas apa dan siapa Malik Mahmud tersebut. Sementara itu, arah politik Aceh pasca penandatanganan MoU Helsinki, menjadikan tokoh ini begitu populer sebagai Perdana Menteri GAM yang “berhasil” membawa perdamaian ke Aceh melalui jalur politik. Hingga saat ini, tidak ada catatan yang jelas mengenai siapa sebenarnya Malik Mahmud ini. Dari mana ia berasal, kompetensinya dalam karir yang digelutinya selama ini, catatan pendidikan dan pengalaman pekerjaan, keluarga, anak dan istri serta hal-hal lain yang terasa gelap bagi masyarakat Aceh tentang sosok yang disebut-sebut akan menjadi figure pemersatu bagi rakyat Aceh. Riwayat Keh...

Operasi militer Indonesia di Aceh 2003-2004

  Operasi militer Indonesia di Aceh (disebut juga Operasi Terpadu oleh pemerintah Indonesia) adalah operasi yang dilancarkan Indonesia melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dimulai pada 19 Mei 2003 dan berlangsung kira-kira satu tahun. Operasi ini dilakukan setelah GAM menolak ultimatum dua minggu untuk menerima otonomi khusus untuk Aceh di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Operasi ini merupakan operasi militer terbesar yang dilakukan Indonesia sejak Operasi Seroja (1975), dan pemerintah mengumumkan terjadinya kemajuan yang berarti, dengan ribuan anggota GAM terbunuh, tertangkap, atau menyerahkan diri. Operasi ini berakibat lumpuhnya sebagian besar militer GAM, dan bersama dengan gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004 menyebabkan berakhirnya konflik 30 tahun di Aceh . Pada 28 April 2003 , pemerintah Indonesia memberikan ultimatum untuk mengakhiri perlawanan dan menerima otonomi khusus bagi Aceh dalam waktu 2 minggu. Pemimpin GAM yang berbasis ...