Langsung ke konten utama

Saat Ratu Inggris mengenal Aceh



And we promise, on oir behalfe, to re-answer in like degree in all that Your Highness shall have need out of these our kingdomes.

 
Ratu Elizabeth I.@commons.wikimedia.org

Kerajaan Inggris telah diberitahukan tentang kesultanan Aceh yang jauh itu, tentang rajanya dan ladanya yang dapat diambil di sana oleh John Davis, juru mudi Inggris yang masuk dinas de Houtman bersaudara pada waktu pelayaran Zelandia yang pertama.

Kisah Kompeni Hindia Timur Inggris mengirim kapal-kapal ke laut selatan pada 1601, dinukilkan kembali oleh Sir James Lancaster yang kemudian diterbitkan tahun 1940 oleh W Foster (Voyages of Sir James Lancaster).

Dalam surat yang ditujukan kepada Sultan Aceh tersebut, Ratu Elizabeth penguasa Inggris masa itu menonjolkan rasa permusuhan yang sama-sama dirasakan oleh Inggris dan Aceh terhadap bangsa Portugis dan Spanyol serta sekutunya. Alasan ini juga pernah dipakai oleh Pangeran Maurits saat menjalin hubungan dengan Aceh.

Berikut lampiran teks tersebut yang dikutip Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh; Zaman Sultan Iskandar Muda :

Elizabeth, by the grace of god, Queene of England, France, and Ireland, Defendresse of the Christian Faith ang Religion, to the great and mightie King of Achem etc., in the eiland of Sumatra, our living brothet, greeting!
The eternall god, of His divine knowledge and providence, hath so disposed His blessings and good things of His creation for the use and nourishment of mankind, in such sort that, notwithstanding they growe in divers kingdoms and regions of the world, yet by the industrie of man (stirred up by the inspiration of the said omnipotent Creator) they are dipersed into the most remote places of the universall world, to the end that even therein may apeare unto all nations His marvelous workes, He having so ordained that the one land may have need of the other, and thereby not only breed intercourse and exchange of their merchandise and fruits, which doe superabond in somme contries and want in others, but also in gender love and friendship betwix all men, a thing naturally divine.
Whereunto we having respect, right noble King, and also to the honourable and trully royall fame which hath hither stretched of Your Hignesse humane and noble usage of strangers which repaire into that your kingdome, in love and peace, in the trade if merchandise, paying your due customes, wee have beene mooved ti give licence unto tjese our subjects, who, with commendable and good desires, saile to visite that your kingdome, notwithstanding the dangers and miseries of the she naturall to such a voyage wich (by the grace of God) they will make, beeing the greatest that iss to be made in the world, and to present traffocke unto your subjects.
Which their offer, if it shall bee accepted by Your Highnesse, with such love and grace as wee hope for of so great anf magnanimous a prince, wee for them doe promise that in ni time hereafter you shall have cause to repent thereof, but rather ti rejoyce much; for their dealing shall be true and their conservation sure, and we hope that they will give so good proofe thereof that this beginning shall be a perpetuall confirmation of love betwixt our subjects on both parts, by carrying from us such things and merchandise as you have need of there.
So that your Highnesse shall by very well served, and Spaniards, our enemies, who only, and none else of these regions, have frequented those your and the other kingdomes of the East, not suffering that the other nations should doe it; pretending themselves to be monarchs and absolute lords of all these kingdomes and provinces as their owne conquest and inheritance, as appeareth by their loftie title in their writings; the contrarie wherof hath very lately appeared unto us, and that Your Heghnesse and your royall familie, fathers and grandfathers, have, by the grace of God and theri valour, knowne not only to defend to defend your owne kingdomes, but also to give warres unto the Portugals in the lands which they possesse, as namely in Malaca, in the yeere of the humane redemption 1575 , under the conduct of your valiant captaine Ragamacotta, with their great losse and the perpetuall honour of Your Highnesse crowne and kingdome.

And now if Your Highnesse shall be pleased to accept into your favour and grace and under your royall protection and defence these our subjects, that they may freely doe thier businesse now and continue yeerely hereafter, this bearer, who goeth chiefe of this fleet of fource ships, hath order (with Your Highnesse licence) to leave certaine factors, with a setled house of factorie, in your kingdome, untill the going thither of another fleet, which shall goe thither upon the returne of this; which left factors shall learne the languange and customes of your subjects, wherby the better and more lovingly to converse with them.
And the better to confirme this confederacie and friendship betwixt us wee are contented, if Your Highnesse be so pleased, that you cause capitulations reasonable to be made, and that this bearer doe the like in herein as in other agreements and arguments which he will communicate unto you; to whom we doe greatly desire Your Highnesse to give intire faith and credite, and that you will receive him and the rest of his companie under your royal protection, favouring them in what shall be reason and justice.
And we promise, on oir behalfe, to re-answere in like degreee in all that Your Highnesse shall have need out of these our kingdomes.
And we desire that Your Highnesse would be pleased to send us answere by this bearer on this our letter, that wee may thereby understand of your royall acceptance of the friendship and league which wee offer, and gretly desire may have an happie beginning, with long yeares to continue.

Terjemahan :

Elizabeth, dengan restu Tuhan Ratu Inggris, Prancis dan Irlandia, Pembela Imam dan Agama Nasrani, kepada Raja Aceh dan seterunya yang besar dan berkuasa, di Pulau Sumatera, saudara kami yang dikasihi, salam!
Tuhan yang Mahakekal, dengan pengetahuan dan pemeliharaan Nya telah menyediakan restu Nya dan hal-hal baik hasil ciptaan Nya untuk dipakai dan dimakan umat manusia sedemikian rupa hingga meskipun tumbuhannya di pelbagai kerajaan dan daerah di dunia, namun karena kerajinan manusia (yang tergugah oleh ilham dari Pencipta yang mahakuasa itu) tersebar ke tempat-tempat yang paling terpencil di jagat, supaya dalam hal ini pun karya-karya Nya yang mengagumkan itu nyata bagi semua bangsa, sedangkan diatur Nya sedemikian rupa hingga negeri yang satu bisa memerlukan yang lain dan dengan demikian tidak hanya memupuk pergaukan dan pertukaran barang dan duah mereka yang di negeri-negeri tertentu berlimpah-ruah dan di negeri-negeri lai kurang sekali, tetapi juga menimbulkan kasih sayang dan persahabatan antara manusia, suatu hal yang sudah sewajarnya dari Tuhan.

Karena kami hormati semuanya itu, Raja yang adil dan mulia, dan juga karena kami hormati nama mulia Paduka yang benar-benar layak bagi raja dan yang telah tersebar sampai ke mari mengenai perlakuan Yang Mulia yang luhur dan manusiawi terhadap orang asing yang singgah di kerajaan Yang Mulia dengan kasih dan damai untuk melakukan perdagangan sambil membayar bea cukai yang diwajibkan, maka kami berkenan memberi izin kepada hamba kami yang dengan keinginan baik yang patut dihargai berlayar untuk mengunjungi kerajaan Yang Mulia, betapapun besarnya bahaya dalam pelayaran semacam itu yang (dengan restu Tuhan) benar-benar akan mereka tempuh, yaitu pelayaran yang paling jauh yang dapat ditempuh di dunia ini, dan untuk menawarkan dagangan kepada hamba Yang Mulia.
Dan kalau tawaran mereka akan diterima oleh Paduka Yang Mulia dengan kasih dan restu yang kami harapkan dari raja sebesar dan sedemikian murah hatinya seperti Yang Mulia, maka kami berjanji untuk mereka bahwa untuk selanjutnya tak pernah Yang Mulia akan mempunyai alasan untuk menyesalinya, malahan sebaliknya Yang Mulia akan sangat menyenanginya; karena urusan mereka bakal jujur dan ucapannya bisa diandalkan, dan kami berharap supaya mereka akan membuktikannya sedemikian rupa hingga hamba kita pada kedua belah pihak, dengan membawa dari kami barang dan dagangan yang diperlukan Yang Mulia di sana.
Sehingga Paduka Yang Mulia akan terlayani dengan baik dan akan lebih puas daripada dengan bangsa Portugis dan Spanyol, musuh kita, satu-satunya--dari daerah ini tak ada lainnya--yang telah mengunjungi kerajaan Yang Mulia dan kerajaan-kerajaan lain di Timur tapu yang tidak menghendaki bangsa-bangsa lain berbuat yang sama; mereka mengaku dirinya raja dan penguasa mutlak atas semua kerajaan dan propinsi yang mereka anggap taklukan dan warisan mereka sendiri, sebagaimana nampak dari gelar mereka yang megah dalam tulisan-tulisan mereka; kebalikannya baru-baru saja nampak kepada kami, juga bahwa Paduka Yang Mulia dan keluarga Paduka, yang memerintah sebelumnya dengan restu Allah dan berkat kegagahna mereka telah berhasil tidak hanya membela kerajaan-kerajaan Yang Mulia sendiri, tetapi juga memerangi bangsa Portugis di tanah-tanah yang mereka miliki, yaitu di Malaka, pada tahun Masehi 1575 , di bawah pimpinan kapten Yang Mulia yang gagah berani, Ragamacota, dengan akibat mereka kalah besar dan mahkota dan kerajaan Yang Mulia dihormati untuk selama-lamanya.

Sekarang kalau dengan restu Yang Mulia dan dengan perlindungan dan pembelaan Yang Mulia, paduka Yang Mulia berkenan menerima hamba-hamba kami ini sehingga sekarang dan setiap tahun sesudahnya mereka dapat melakukan urusan mereka dengan bebas, maka pembawa surat ini yang berpangkat pemimpin empat kapal ini telah mendapat perintah (dengan izin Yang Mulia) untuk meninggalkan beberapa petor dalam sebuah rumah perdagangan yang koko di kerajaan Yang Mulia sampai ada kapal-kapal lain yang pergi ke sana, yang akan berangkat sesudah yang ini kembali; dan agen-agen yang ditinggalkan itu akan belajar bahasa dan adat hamba Yang Mulia supaya dapat berbicara dengan mereka dengan cara yang lebih baik dan lebih sopan.

Dan supaya persekutuan dan persahabatan antara kita menjadi lebih teguh, kami bersenang hati sekiranya Yang Mulia berkenan menyuruh buatkan perjanjian yang wajar, dan supaya pembawa surat ini berbuat yang sama atas nama kami; yang kami janjikan akan kami lakukan dengan sepenuhnya sebagaimana selayaknya tindak raja, baik mengenai perjanjian yang ini maupun perjanjian-perjanjian dan pernyataan-pernyataan yang akan disampaikannya kepada Yang Mulia; dan kami harapkan dengan sangat Yang Mulia akan memberi kepadanya kepercayaan dan pujian sepenuhnya, dan semoga Yang Mulia akan menerimanya beserta orang-orang lain yang akan mengiringinya di bawah perlindungan Yang Mulia, dan akan mengizinkan mereka apa yang masuk akal dan yang benar.
Dan dari pihak kami, kami berjanji akan mengimbali pada taraf yang sama dengan segala sesuatu yang bakal diperlukan Yang Mulia dari kerajaan-kerajaan kami.
Dan kami inginkan Yang Mulia berkenan mengirim jawaban melalui pembawa surat kami ini supaya kami dengan demikian mengetahui apabila Yang Mulia menerima persahabatan dan persekutuan yang kami tawarkan, yang kami harapjan bakal dimulai dengan baik dan akan berlangsung bertahun-tahun lamanya.


Sumber : Kerajaan Aceh; Zaman Sultan Iskandar Muda karangan Denys Lombard

Komentar

  1. Temukan berbagai macam informasi wisata yang ada di Indonesia beserta makna/arti/cerita tentang wisata tersebut yang ada di indonesia
    Dan juga artikel-artikel tentang wisata di wisataIndonesiaraya.com dan like page facebook wisataIndonesiaraya.com

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KARIM TIRO, SOSOK YANG MISTERIUS

Bagi masyarakat Aceh, sosok Karim Michel Tiro (selanjutnya disebut Karim saja) kalah populer dibanding ayahnya, Teungku Hasan Muhammad di Tiro (selanjutnya disebut Tiro). Selama puluhan tahun, namanya hanya disebutkan secara terbatas, itu pun hanya di kalangan GAM saja. Pun begitu, Tiro, ayahnya, sering menyebut namanya, baik dalam pidato maupun dalam tulisan. Dalam The Price of Freedom: The Unfinished Diary of Teungku Hasan di Tiro , nama anak semata wayangnya disebut berkali-kali, bahkan dengan bangga. Iya, kini sepeninggalan Tiro, nama Karim mencuat ke permukaan: Setidaknya, ada dua sebab: karena orang-orang pada penasaran; juga karena mereka kecewa. Penasaran karena, selama puluhan tahun masyarakat tak pernah melihat sosoknya secara langsung dan nyata. Foto dirinya juga terbatas, termasuk arsip di internet. Kisah tentangnya begitu tertutup dan misterius, kecuali beberapa dokumen dari Universitas tempatnya mengabdikan diri sebagai asisten profesor ilmu sejarah ...

Mengenal Malik Mahmud, Sang Pemangku Wali (1)

Malik Khaidir Mahmud.  Demikianlah nama asli beliau. Seorang tokoh elit eks Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dikenal dekat dengan Wali Nanggroe, Hasan Tiro. Tokoh yang satu ini memang sungguh unik, tertutup dan sangat berhati-hati dalam berbagai isu yang menyangkut akan latar belakang dan riwayat hidupnya. Sehingga tidak diperoleh catatan yang jelas apa dan siapa Malik Mahmud tersebut. Sementara itu, arah politik Aceh pasca penandatanganan MoU Helsinki, menjadikan tokoh ini begitu populer sebagai Perdana Menteri GAM yang “berhasil” membawa perdamaian ke Aceh melalui jalur politik. Hingga saat ini, tidak ada catatan yang jelas mengenai siapa sebenarnya Malik Mahmud ini. Dari mana ia berasal, kompetensinya dalam karir yang digelutinya selama ini, catatan pendidikan dan pengalaman pekerjaan, keluarga, anak dan istri serta hal-hal lain yang terasa gelap bagi masyarakat Aceh tentang sosok yang disebut-sebut akan menjadi figure pemersatu bagi rakyat Aceh. Riwayat Keh...

Operasi militer Indonesia di Aceh 2003-2004

  Operasi militer Indonesia di Aceh (disebut juga Operasi Terpadu oleh pemerintah Indonesia) adalah operasi yang dilancarkan Indonesia melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dimulai pada 19 Mei 2003 dan berlangsung kira-kira satu tahun. Operasi ini dilakukan setelah GAM menolak ultimatum dua minggu untuk menerima otonomi khusus untuk Aceh di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Operasi ini merupakan operasi militer terbesar yang dilakukan Indonesia sejak Operasi Seroja (1975), dan pemerintah mengumumkan terjadinya kemajuan yang berarti, dengan ribuan anggota GAM terbunuh, tertangkap, atau menyerahkan diri. Operasi ini berakibat lumpuhnya sebagian besar militer GAM, dan bersama dengan gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004 menyebabkan berakhirnya konflik 30 tahun di Aceh . Pada 28 April 2003 , pemerintah Indonesia memberikan ultimatum untuk mengakhiri perlawanan dan menerima otonomi khusus bagi Aceh dalam waktu 2 minggu. Pemimpin GAM yang berbasis ...