Melanjutkan
tulisan kemarin tentang sosok Sang Pemangku Wali Nanggroe, Malik Mahmud
Al Haythar, yang misterius dan tertutup serta keunggulannya dalam
menjalin dan memelihara kerjasama dan hubungan dengan “dunia bawah
tanah†Singapura, pembahasan kali ini akan mendeskripsikan kelihaian
Malik Mahmud sebagai seorang yang lihai dalam memanfaatkan peluang
“kekosongan†sejarah Aceh dalam mendukung langkah dan gerakan yang
dilakukan oleh Hasan Tiro dalam memerdekakan Aceh.
Tahun
2002, adalah tahun penting bagi Malik Mahmud setelah perjalanan panjang
yang ia lakukan bersama Hasan Tiro sejak mengenalnya tahun 1964. Tahun
itu, adalah tahun penetapan sekaligus pengukuhan dirinya
sebagai Perdana Menteri GAM sekaligus Pemangku Wali Nanggroe dalam rapat
rahasia yang dihadiri secara terbatas oleh para kombatan GAM di luar
negeri. Rapat rahasia itu dilaksanakan di Stavanger Norwegia atas
inisiatif Malik Mahmud dalam upayanya menetapkan posisi dan kedudukan
para elit GAM kala itu sekaligus sebagai usaha untuk tidak kehilangan
reputasi di tengah perlawanan keras yang dilakukan oleh para pejuang GAM
di Aceh yang sangat berwibawa saat itu yaitu Tengku Abdullah Syafei.
Pemangku Wali sendiri dapat diartikan sebagai pelaksana tugas-tugas Wali
Nanggroe apabila sang wali berhalangan sementara ataupun tetap. Namun
demikian, muncul pertanyaan, apakah pengukuhan tersebut
merupakan kehendak rakyat Aceh seluruhnya? Apakah pengukuhan tersebut
semata-mata merupakan strategi menuju ke puncak kekuasaan Aceh dengan
mengabaikan peranan Kesultanan Aceh yang sesungguhnya?
http://www.flickr.com/photos/drhusaini/7512999628/in/photostream
Sejarah mencatat, bahwa sejatinya wali nanggroe telah ada semasa Kesultanan Aceh di masa penjajahan Belanda yaitu Tuanku
Hasyim Banta Muda, Syaikh Abdur Rauf al-Singkili yang pernah mewakili
kerajaan Aceh. Kesultanan Aceh sendiri berawal dari kepemimpinan Sultan
Ali Mughayat Syah (1500-1530) hingga Sultan Muhammad Dawud Syah
(1874-1903). Namun demikian, dengan berlandaskan buku yang dikeluarkan
oleh Parlemen Inggris, New Birth of Freedom tahun 1992, Hasan
Tiro mengaku sebagai keturunan dan penguasa kesultanan Aceh yang ke-41
yaitu sejak tahun 1976. Ini adalah hal yang sungguh aneh di tengah para
keturunan langsung Sultan dan Wali Nanggroe Aceh Darusalam yang terikat
oleh sejarah dan tradisi kesultanan Aceh melihat kedudukan Hasan Tiro
maupun Malik Mahmud sebagai tokoh yang memanipulasi sejarah Aceh untuk
kepentingan pribadi maupun kelompoknya.
Dalam
diskusi Panteue yang turut dihadiri Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja
Ibarim sebagai cucu Sultan Alaidin Muhammad Dawud Syah (Sultan Aceh yang
terakhir), juga hadir cucu Wali Nangroe Tuanku Hasyim Banta Muda, Adli Abdullah tanggal 12 Desember 2010 di Lampriet Banda Aceh, menurut Adli bahwa dalam daftar Piagam Bate Kureng, SAMA SEKALI TIDAK ADA NAMA Tgk. Hasan Tiro, kecuali Tengku Zainal Abidin Muhammad Tiro dan Tengku Umar Tiro.
Selanjutnya, simbol kerajaan dan pemerintahan Aceh berupa cap Sikureng yang pernah diberikan kepada Tgk Chik di Tiro, setelah sepeninggal beliau pada tahun 1891,
telah diserahkan kepada Habib Samalanga (Reid, 2005:275). Melihat symbol kerajaan yang dipegang oleh Habib tersebut, apakah keturunan habib itu juga berhak atas gelar Wali Nanggroe?
Melihat
penelusuran sejarah singkat di atas tentang Wali Nanggroe, tentunya
terbentuk pemahaman, siapa sebenarnya Hasan Tiro dan apa yang melandasi
penunjukan Malik Mahmud sebagai Pemangku Wali Nanggroe untuk menduduki
sebuah jabatan yang memiliki nilai-nilai kultur dan sejarah Keacehan
yang sangat tinggi dan tak ternilai?
Disinilah
letak kelihaian Malik Mahmud dalam merencanakan dan memanipulasi
sejarah Aceh yang terputus karena didera konflik selama puluhan tahun.
Malik Mahmud tampaknya menyadari posisinya yang sangat lemah dalam
silsilah
kesultanan Aceh sehingga merekayasa pertemuan rahasia Sigom Donya di
Stavanger sebagai upayanya dalam mengukuhkan kedudukannya andaikan Hasan
Tiro tiada. Hal ini sama dengan ketika marsekal
Perancis Jean Baptiste Bernadotte menggantikan Raja Swedia Carl XIII
yang tidak memiliki putra mahkota. Dengan musyawarah kerajaan yang
diinisiasi oleh Bernadotte, maka mau tak mau dalam musyawarah tersebut
menunjuk Bernadotte sebagai Raja Swedia pada tahun 1810.
Bisa
dikatakan, apa yang dilakukan oleh Malik Mahmud dan mendiang Hasan Tiro
dalam rapat Stavanger tersebut adalah Coup D etat atas sejarah dan
nilai-nilai kultur serta budaya Aceh maupun pengkhianatan terhadap
kejayaan Kesultanan Aceh masa lalu. Semuanya dilakukan bukan karena
dilandasi oleh niat yang tulus dan ikhlas
dalam mensejahterakan rakyat Aceh atau bahkan memerdekakannya, namun
lebih karena nafsu kekuasaan.
Komentar
Posting Komentar